Rabu, 07 Mei 2014

Proposal Metode Penelitian Pembelajaran Bahasa

KEMAMPUAN MENULIS TEKS TANGGAPAN DESKRIPTIF MELALUI MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS VII SMP MUHAMMADIAH 2 PONTIANAK TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Tugas Terstruktur Mata Kuliah Metode Penelitian Pembelajaran Bahasa Diampuh oleh Drs. Syambasril, M.Pd.

RENCANA PENELITIAN
OLEH:

TAUFIK SURAHMAN
F11111049

UNTAN1
 










PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK

2014





A.    Judul Penelitian
Kemampuan Menulis Teks Tanggapan Deskriptif Melalui Media Gambar Pada Siswa Kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak Tahun Pelajaran 2014/2015.
B.     Latar Belakang
Menulis  merupakan  suatu  bentuk  manifestasi  kemampuan  dan  keterampilan  berbahasa paling  akhir  yang  harus  dikuasai  siswa  pada  pelajaran  bahasa  Indonesia  setelah  kemampuan mendengarkan,  berbicara  dan  membaca.  Dibanding  dengan  ketiga  kemampuan  tersebut  menulis merupakan  keterampilan  yang  paling  sulit  dikuasai  bahkan  penutur  ahli  bahasa  sekalipun.  Hal  ini disebabkan kemampuan menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur non kebahasaan itu sendiri yang akan menjadi isi karangan Nurgiantoro (1988).
Salah  satu  aspek  keterampilan  berbahasa  yang  berkaitan  dengan  pengungkapan  pikiran, gagasan,  pendapat  dan  perasaan  tersebut  adalah  keterampilan  menulis  utamanya  dalam  menulis karangan  karena  keterampilan  menulis  karangan  ini   merupakan  keterampilan  berbahasa  yang bersifat produktif-aktif yakni salah satu kompetensi dasar berbahasa yang harus dimiliki siswa agar terampil  berkomunikasi  secara  tertulis.  Siswa  akan  terampil  mengorganisasikan  gagasan  dengan runtut, menggunakan kosakata yang  tepat dan sesuai, memperlihatkan ejaan dan tanda baca yang benar,  serta  menggunakan  ragam  kalimat  yang  variatif  dalam  menulis  jika  memiliki  kompetensi menulis paragrraf yang baik.
Berdasarkan  pengalaman  dan  pengamatan  di  kelas  ditemukan  beberapa  hal  yang  menjadi kendala  dalam  pembelajaran  menulis  karangan  utamanya  karangan  yang  sifatnya  deskriptif  yaitu menulis sering kali menjadi suatu hal yang kurang diminati dan kurang mendapat respon yang baik dari siswa. Siwa tampak mengalami kesulitan ketika harus menulis. Siswa tidak tahu apa yang harus dilakukan  ketika  pembelajaran  menulis  dimulai,   Siswa  terkadang  sulit  sekali  menemukan  awal kalimat  yang  bakal  dijadikan  kalimat  pembuka  dalam  menulis  karangan,  bahkan  siswa  kerapkali menghadapi  sidrom  kertas  kosong  (blank  page  syndrome)  tidak  tahu  apa  yang  akan  ditulisnya.
Mereka  terkesan  takut  salah,  takut  berbeda  dengan  apa  yang  diinstruksikan  gurunya.  Apalagi pembelajaran hanya berpusat pada guru serta penggunaan media yang kurang sesuai. Di  samping itu pembelajaran menulis di kelas terkadang juga hanya diajarkan pada saat-saat tertentu saja karena mengingat  terbatasnya   waktu  yang  ada,  sehingga  kebiasaan  siswa  dalam  menulis  tidak  bisa tersalurkan dengan sepenuhnya, padahal pembelajaran keterampilan menulis dapat di padukan atau diintegrasikan  dalam  setiap  proses  pembelajaran  di  kelas. Kecenderungan  lain  yang  terjadi  adalah pola  pembelajaran  menulis  di  kelas  yang  dikembangkan  dengan  sangat  terstruktur  dan  mekanis, mulai  dari  menentukan  topik,  membuat  kerangka,  menentukan  ide  pokok  dalam  paragraf,  kalimat utama,  kalimat  penjelas,  ketepatan  penggunaan  fungtuasi  dan  sebagainya.  Pola  tersebut  selalu berulang  tiap  kali  pembelajaran  menulis.  Pola  tersebut  tidak  salah,  tetapi  pola  itu  menjadi  kurang bermakna  jika  diterapkan  tanpa  variasi  strategi  dan  teknik  lain.  Akibatnya,  waktu  pembelajaranpun lebih tersita untuk kegiatan tersebut, sementara kegiatan menulis yang sebenarnya tidak terlaksana atau sekedar menjadi tugas di rumah. Kegiatan menulis seperti ini bagi siswa menjadi  suatu kegiatan yang prosedural dan menjadi tidak menarik. Penekanan pada hal yang bersifat mekanis adakalanya membuat kreativitas  menulis  tidak  berkembang  karena  hal  itu  tidak mengizinkan  gagasan  tercurah secara  alami.  Bahkan  Tompkins  (1994)  menegaskan  bahwa  terlalu  menuntut  kesempurnaan  hasil tulisan dari siswa justru dapat mengurangi kemauan siswa untuk menulis, disamping itu pembelajaran menulis karangan juga sering membingungkan siswa karena pemilahan-pemilahan yang kaku dalam mengajarkan jenis-jenis karangan, seperti narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi.
Pengkategorian yang kaku itu membuat siswa menulis terlalu berhati-hati karena takut salah,tidak  sesuai  dengan  jenis  karangan  yang  dituntut,  padahal  ketakutan  untuk  berbuat  salah  tersebut dapat mengurangi kreativitas siswa untuk menulis. Haliday (dalam Tompkins & Hoskisson, 2007: 115) menyatakan bahwa pengkategorian jenis-jenis karangan tersebut terlihat artifasial ketika kita meminta siswa  menggunakannya  untuk  berbagai  tujuan  yang  berbeda,  sebab  siswa  terkadang mengkombinasikan dua atau lebih kategori untuk mengemukakan sebuah gagasan dalam tulisannya.
Kegiatan  menulis  di  sekolah  merupakan  kegiatan  yang  sering  terjadi  pada  mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sejak SD kita telah diajarkan menulis, demikian pula ketika di SMP maupun SMA. Di bangku kuliah, sering dosen memberi tugas untuk mengumpulkan makalah.  Bahkan  menjelang  lulus,  seluruh  mahasiswa  diwajibkan  membuat  tugas  akhir atau skripsi. Pembelajaran menulis memiliki berbagai macam bentu k. Salah satunya adalah menulis karangan.
Kemampuan menuangkan karya dalam bentuk tulisan diperoleh melalui proses yang disebut  belajar.  Proses  pembelajaran  untuk  memperoleh  kemampuan  mengarang  itu ditempuh  melalui  tahapan-tahapan  yang  telah  ditentukan.  Dalam  pendidikan  formal tahapan-tahapan  itu  telah  diatur  dalam  kurikulum.  Sesuai  dengan  kurikulum 2013,  materi menulis karangan telah diajarkan pada siswa kelas VII SMP karena siswa kelas VII SMP telah  dianggap  layak  untuk  menerima  materi  menyusun teks tanggapan deskripsi  tersebut.
Salah satu jenis karangan yang diajarkan kepada peserta didik kelas VII SMP adalah menyusun teks tanggapan deskripsi.  Teks ini  memiliki  ciri  melukiskan  suatu  kondisi  atau  objek tertentu.  Dalam  teks tanggapan deskripsi  memerlukan  kecermatan  pengamatan  dan  ketelitian. Hasil  dari  pengamatan  secara  cermat  dan  teliti  itu  kemudian  dituangkan  oleh  penulis dengan menggunakan kata-kata yang kaya akan nuansa dan bentuk. Seorang penulis harus sanggup  mengembangkan  suatu  objek  melalui  rangkaian  kata-kata  yang  penuh  arti  dan kekuatan sehingga pembaca dapat menerima seolah-olah melihat, mendengar, merasakan, menikmati  sendiri  objek  tersebut.  Teks tanggapan deskripsi  merupakan  karangan  yang  lebih menonjol aspek pelukisan sebuah benda sebagaimana adanya.
Beberapa  kendala  yang  dihadapi  siswa  dalam  menulis  teks tanggapan deskripsi  terlihat pada  saat  diberikan  tugas  untuk  menulis  seperti,  1.  Ketidakmampuan  siswa  dalam menentukan topik, 2. Ketidakmampuan siswa dalam membuat judul, 3. Ketidakmampuan siswa  dalam  menyusun  kerangka  karangan,  4.  Ketidakmampuan  siswa  dalam mengembangkan  paragraf,  5.  Ketidakmampuan  siswa  dalam  menentukan  kalimat  utama dan 6. Ketidakmampuan siswa dalam menentukan bentuk karangan.

C.    Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah disimpulkan, permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut ini.
1.    Bagaimanakah perencanaan pembelajaran untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015?
2.    Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015?
3.    Bagaimanakah evaluasi pembelajaran untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015?

D.    Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015. Berdasarkan tujuan tersebut, tujuan khusus ini dirumuskan sebagai berikut.
1.    Mengetahui perencanaan pembelajaran untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015.
2.    Mengetahui pelaksanaan pembelajaran untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015.
3.    Mengetahui evaluasi pembelajaran untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015.

E.     Manfaat Penelitian
                   Dalam penelitian ini, peneliti mempunyai dua manfaat teoretis dan manfaat praktis.

1.      Manfaat Teoretis
            Hasil penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan manfaat teoretis, yaitu dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian lebih lanjut yaitu berupa alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam usaha memperbaiki mutu pendidikan dan mempertinggi interaksi belajar mengajar, khususnya dalam pembelajaran menulis teks tanggapan deskripsi. Manfaat teoretis lainnya adalah menambah khasanah pengembangan pengetahuan mengenai pembelajaran menulis teks tanggapan deskripsi.

2.      Manfaat Praktis
Secara praktis manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini dibagi menjadi empat yaitu: bagi siswa, guru, sekolah.
a.    Manfaat bagi siswa adalah dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis pada umumnya dan menulis teks tanggapan deskripsi pada khususnya, dan meningkatkan kreativitas dan keberanian siswa dalam berpikir.
b.    Manfaat bagi guruadalah sebagai bahan pertimbangan, perbaikan, dan penyempurnaan dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya untuk menulis karangan.
c.    Manfaat bagi peneliti adalah peneliti dapat menegetahui kemampuan siswa dalam menulis karangan, khususnya karangan deskripsi.

F.     Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian perlu dilakukan agar penelitian lebih terarah dalam pengumpulan data. Penelitian ini difokuskan pada pengukuran terhadap kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak. Berkaitan dengan ruang lingkup penelitian ini mencakup hal-hal berikut.
1.      Perencanaan pembelajaran untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015.
2.      Pelaksanaan pembelajaran untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015.
3.      Evaluasi pembelajaran untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015.

G.    Penjelasan Istilah
Penjelasan istilah dimaksudkan supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam istilah yang dibuat. Adapun penjelasan istilah yang dimaksudkan adalah sebagai berikut.
1.    Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk terampil berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, baik itu secara lisan maupun tulisan, serta baik dalam situasi formal maupun informal. Selain terampil berkomunikasi, peserta didik diharapkan memiliki sikap apresiatif terhadap karya sastra Bahasa Indonesia.
2.    Menulis adalah suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung tidak secara tatap muka dengan orang lain (Tarigan, 1994:3).
3.    Karangan deskripsi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu obyek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga obyek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan para pembaca melihat sendiri obyek itu (Keraf 1995:16). Deskripsi memberi satu citra mental mengenai sesuatu hal yang dialami, misalnya pemandangan, orang atau sensasi.
Kesimpulan kemampuan menulis teks tanggapan deskriptif melalui media gambar pada siswa kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015 adalah upaya yang dilakukan untuk mengukur kemampuan menulis teks tanggapan deskripsi siswa melalui media gambar.


H.    Kerangka Teori
1.      Keterampilan Menulis
Keterampilan menulis adalah keterampilan yang paling kompleks, karena keterampilan menulis merupakan suatu proses perkembangan yang menuntut pengalaman, waktu, kesepakatan, latihan serta memerlukan cara berpikir yang teratur untuk mengungkapkannya dalam bentuk bahasa tulis. Oleh sebab itu, keterampilan menulis perlu mendapat perhatian yang lebih dan sungguh-sungguh sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa.
2.      Hakikat Menulis
Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan dan pengetahuan. Dalam kegiatan menulis ini, maka penulis haruslah teampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Disebut sebagai kegiatan produktif karena kegiatan menulis menghasilkan tulisan, dan disebut sebagai kegiatan yang ekspresif karena kegiatan menulis adalah kegiatan yang mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan penulis kepada pembaca (Tarigan 1983:3-4).
3.    Hakikat Menulis Paragraf Deskripsi
Deskripsi adalah semacam bentuk wacana yang berusaha menyajikan suatu obyek atau suatu hal sedemikian rupa, sehingga obyek itu seolah-olah berada di depan mata kepala pembaca, seakan-akan para pembaca melihat sendiri obyek itu (Keraf 1995:16). Deskripsi memberi satu citra mental mengenai sesuatu hal yang dialami, misalnya pemandangan, orang atau sensasi.
Fungsi utama dari deskripsi adalah membuat para pembacanya melihat barang-barang atau obyeknya, atau menyerap kualitas khas dari barang-barang itu. Deskripsi membuat kita melihat yaitu membuat visualisasi mengenai obyeknya, atau dengan kata lain deskripsi memusatkan uraiannya pada penampakan barang. Dalam deskripsi kita melihat obyek garapan secara hidup dan konkrit, kita melihat obyek secara bulat.
Misalnya kita akan membuat deskripsi tentang sebuah rumah, diharapkan menyajukan banyak penampilan individual dan karakteristik dari rumah itu, dan beberapa aspek yang dapat dianalisis seperti : besarnya, materi konstruksinya, dan rancangan arsitekturnya. Demikian pula deskripsi suatu daerah pedesaan kurang bertalian dengan ciri-ciri studi topografis, tetapi lebih terfokus pada macam-macam keistimewaan umum, dan suasana lokal yang menarik. Karena sasaran yang dituju adalah memberi perhatian pada penampilan yang khas dari obyeknya. Deskripsi lebih memberikan citra yang menarik mengenai objek itu. Deskripsi banyak kaitannya dengan hubungan pancaindera dan pencitraan, maka banyak tulisan deskripsi di klasifikasikan sebagai tulisan kreatif.
Tujuan menulis deskripsi adalah membuat para pembaca menyadari dengan hidup apa yang diserap penulis melalui pancaindera, merangsang perasaan pembaca mengenai apa yang digambarkannya, menyajikan suatu kualitas pengalaman langsung. Objek yang dideskipsikan mungkin sesuatu yang bisa ditangkap dengan pancaindera kita, sebuah pemandangan alam, jalan-jalan kota, tikus-tikus selokan atau kuda balapan, wajah seseorang yang cantik molek, atau seseorang yang putus asa, alunan musik atau gelegar guntur, dan sebagainya.
Paragraf deskripsi merupakan penggambaran suatu keadaan dengan kalimat-kalimat, sehingga menimbulkan kesan yang hidup. Penggambaran atau lukisan itu harus disajikan sehidup-hidupnya, sehingga apa yang dilukiskan itu hidup di dalam angan-angan pembaca.
Deskripsi lebih menekankan pengungkapannya melalui rangkaian kata-kata. Walaupun untuk membuat deskripsi yang baik, penulis harus mengadakan identifikasi terlebih dahulu, namun pengertian deskripsi hanya menyangkut pengungkapa melalui kata-kata. Dengan mengenal ciri-ciri obyek garapan, penulis dapat menggambarkan secara verbal obyek yang ingin diperkenalkan kepada para pembaca.
Maka dapat disimpulkan bahwa karangan deskripsi merupakan paragraf yang melukiskan suatu objek sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal yang ditulis pengarang.
Langkah menyusun deskripsi:
1.    Menetapkan tema dan judul karangan
Tema karangan yaitu gagasan persoalan, pokok permasalahan, ide yang akan dikemukakan dalam karangan, atau pokok pembicaraan yang mendasari suatu karangan. Karangan yang hendak dikembangkan dalam penelitian ini berbentuk deskripsi. Oleh karena itu, tema karangan berupa objek yang akan ditulis, yaitu keindahan alam pegunungan dan pantai. Jika cakupan tema tidak terlalu luas, maka tema dapat juga dijadikan judul. Karena judul merupakan kepala karangan, maka kata-katanya harus muncul/tertulis dalam karangan. Judul yang baik adalah judul yang dapat menyiratkan isi keseluruhan karangan.
2.    Menetapkan tujuan penulisan
Menurut Akhadiah, dkk. (1988:11), perumusan tujuan penulisan sangat penting dan harus ditentukan terlebih dahulu karena merupakan titik tolak dalam seluruh kegiatan menulis. Rumusan tujuan penulisan adalah suatu gambaran penulis dalam kegiatan menulis selanjutnya. Tujuan penulisan siswa dalam penelitian ini adalah memberikan gambaran dan rincian suatu objek kepada pembaca dengan disertai opini atau kesan atau perasaan terhadap objek yang digambarkan.
3.    Mengumpulkan dan menyeleksi bahan
Langkah yang ketiga adalah mengumpulkan dan menyeleksi bahan. Bahan penulisan ialah semua informasi atau data yang dipergunakan untuk mencapai tujuan penulisan (Akhadiah, dkk. 1988:17). Bahan-bahan untuk menulis karangan deskripsi dalam penelitian ini diperoleh melalui pengamatan terhadap gambar yang merupakan objek yang akan ditulis, dengan menggunakan imajinasi kelima indera, yang kemudian didata ke dalam tabel hasil imajinasi indera.
4.    Menyiapkan kerangka karangan
Langkah keempat ialah menyiapkan kerangka karangan. Kerangka karangan atau outline dapat diartikan sebagai rancangan atau rencana kerja seorang penulis dalam rangka menguraikan setiap topik atau masalah. Kerangka karangan disusun berdasarkan bahan-bahan yang telah terkumpul. Dalam penelitian ini, pengisian tabel hasil imajinasi indera berfungsi sebagai bahan sekaligus kerangka karangan.

5.    Mengembangkan karangan
Langkah yang terakhir dalam menulis karangan deskripsi adalah mengembangkan karangan. Pengembangan karangan dalam penelitian ini dikerjakan berdasarkan pengisian tabel hasil imajinasi indera yang disusun dengan memperhatikan kesatuan dan kebulatan gagasan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan karangan antara lain organisasi, susunan kalimat yang menarik, bervariasi, dan efektif, pilihan kata yang tepat, dan penggunaan ejaan.
4.    Pengertian Media
Media adalah sarana yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan untuk mencapai tujuan (Wijaya, 2005:19). Media pengajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau isi pelajaran, merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar mengajar (Ibrahim & Nana, 2003:112).
Penggunaan media merupakan satu di antara unsur yang juga penting dalam pembelajaran. Tujuan penggunaan media dalam proses pembelajaran adalah kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara efisien dan efektif sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai. Menurut Hamalik (dalam Arsyad, 2002:15), pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsang kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis tehadap siswa. Selanjutnya, Arsyad (2002:26―27) menyimpulkan beberapa manfaat praktis dari penggunaan media pengajaran dalam proses belajar mengajar yaitu: (1) media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar, (2) media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, (3) media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang, dan waktu, dan (4) media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan siswa, serta memugkinkan terjadinya interaksi langsung, antara siswa guru, masyarakat, dan lingkungan.
Brets (dalam Ibrahim & Nana, 2003:114) mengklasifikasikan media berdasarkan adanya tiga ciri, yaitu suara (audio), bentuk (visual), dan gerak (motion). Kadir (2005:21) mengungkapkan bahwa kreativitas guru tercermin dalam bentuk inovasi yang dibawa dalam pembelajaran, baik berupa inovasi materi ataupun model pembelajaran, serta dapat juga memanfaatkan media yang lain untuk memberikan nuansa baru dalam pembelajaran. Kadir (2005:21) menyatakan juga bahwa untuk memberikan kesenangan pada siswa, guru dapat menggunakan kartu, gambar, atau perangkat teknologi modern yang lainnya (sebagai media). Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa gambar dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.
Beberapa alasan diuraikan oleh Nurhaeni (1997:15) sebagai dasar menggunakan gambar, yaitu:
(1) gambar bersifat kongkret,
(2) gambar mengatasi ruang dan waktu,
(3) gambar mengatasi kekurangan daya mampu pancaindera manusia,
(4) gambar dapat digunakan untuk menjelaskan suatu masalah,
(5) gambar mudah didapat dan murah, serta
(6) gambar mudah digunakan, baik untuk perseorangan maupun untuk kelompok siswa.

I.       Metodologi Penelitian
1.      Metode Penelitian
            Sugiyono (2008:1) menyatakan bahwa metode penelitian ada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian adalah suatu cara untuk memecahkan suatu maslah dalam penelitian.
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskritif. Menurut Nawawi (2007:63), “Metode deskritif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek/objek enelitian (seseorang, lembaga masyarakat, dan lain-lain) ada saat seekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya”.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang ada. Alasan penulis menggunakan metode deskriptif karena ingin mendeskripsikan atau menggambarkan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi. Metode ini digunakan untuk mengungkapkan keadaan yang sebenarnya tentang pembelajaran menulis teks tanggapan deskripsi oleh siswa semester 1 kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun ajaran 2014/2015.
2.      Bentuk penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena analisis data dalam penelitian ini berwujud angka-angka serta dideeskripsikan (digambarkan) kembali menggunakan kata-kata. Menurut Moleong (2006:6), “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindaan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan carra deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah”.

3.      Data dan Sumber Data
a.    Data
Data adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006:130). Data dalam penelitian ini terdiri dari data awal (pratindakan) atau data studi pendahuluan, data pelaksanaan tindakan, dan data hasil tindakan. Data awal adalah data hasil wawancara, data rekaman aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran menulis teks tanggapan deskripsi tanpa menggunakan gambar dan imajinasi, dan karangan deskripsi siswa sebelum diberi tindakan, yang digunakan untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah sebagai dasar menyusun rencana tindakan.
b.   Sumber data
Sumber data adalah sebagian data yang diteliti.  Sumber data penelitian ini berupa dokumen, guru, dan siswa.
4.      Teknik dan Alat Pengumpulan Data
a.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data terbagi menjadi empat teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan gabungan. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini:
1)      Teknik wawancara
Teknik wawancara adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan lisan kepada subjek yang diteliti. Wawancara memiliki sifat yang luwes, pertanyaan yang diberikan dapat disesuaikan dengan subjek, sehingga segala sesuatu yang ingin diungkap dapat digali dengan baik.
2)      Teknik pengamatan
Pengamatan atau observasi adalah proses pengambilan data dalam penelitian di mana peneliti atau pengamat melihat situasi penelitian (Susetyo, 2005:1). Observasi dalam penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap, yakni observasi awal dan observasi pelaksanaan tindakan.
3)   Teknik analisis dokumen
Analisis dokumen dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi. Dokumen yang digunakan adalah hasil karya siswa yang berupa karangan deskripsi. Analisis dokumen juga dilaksanakan untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan deskripsi setelah diberi tindakan dengan menggunakan gambar dan imajinasi.
b.   Alat Pengumpulan Data
Penelitian yang penulis lakukan bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa menulis teks tanggapan deskripsi pada kelas VII SMP Muhammadiah 2 Pontianak tahun pelajaran 2014/2015, maka yang digunakan sebagai alat pengumpulan data oleh peneliti dalam penelitian ini adalah tes essai yang berbentuk uraian terstruktur yang didalamnya berisi perintah terhadap subjek ( sampel penelitian) untuk menulis karangan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Alat pengumpulan data juga berupa kartu pencatat.
5.      Teknik Analisis Data
Teknik analisis data adalah cara yang digunakan peneliti untuk menganalisis data. Teknik analisis yang dilakukan yaitu mencari ksalahan penggunaan huruf kapital, kesalahan penggunaan tanda baca (tanda titik dan tanda koma), kesalahan penggunaan kalimat efaktif dan membetulkan kesalahan tersebut dalam karangaan deskripsi yang dilakukan siswa kelas VII semester 1 SMP Muhammadiah 2 tahun pelajaran 2014/2015.
Langkah-langkah Analisis Data
Data yang terkumpul akan diolah sesuai dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Klasifikasi atau pengelompokan hasil pekerjaan siswa mejadi sampel penelitian.
2.    Mengelompokan hasil koreksi berdasarkan aspek-aspek yang dikaji.
3.    Pemberian skor sesuai rentangan nilai pada tabel setiap aspek  yang dikaji.
4.    Penentuan nilai presentasi kemampuan masing-masing siswa pada setiap aspek yang dikaji dengan rumus sebagai berikut:  
NP =  X 100
Keterangan:
NP = Nilai Persetase Kemamuan pada siswa setiap karangan yang dikaji
R    = skor mentah yang diperoleh siswa
Sn  = sekor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan
100 = bilangan tetap
5.    Penentuan nilai persentase kemampuan siswa yang meliputi siswa semua aspek yang dikaji dengan rumus sebagai berikut.
K =  x 100
Keterangan:
K    =  nilai persentase kemampuan siswa yang meliputi semua aspek.
 S    = jumlah dari seluruh siswa
n     = jumlah sampel
N    = jumlah skor maksimal jika semua aspek dijawab benar pada semua aspek.








DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2010.Media Pembelajaran. Jakarta: Ragarafindo Persada.
Jauhari, Heri. 2009. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: CV Pustaka Setia.
Moleong, Lexy.J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudjana, N. & Rivai, A. 1992. Media Pengajaran. Bandung: CV. Sinar Baru Bandung.


Tarigan, Hendry Guntur. 2008. Menulis Sebagai Suatau Keterampilan berbahasa. Bandung: Angkasa
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar