belajar
Sabtu, 02 Januari 2016
Senin, 06 Oktober 2014
PROPOSAL PENELITIAN
PERISTILAHAN
TEKNOLOGI TRADISIONAL PENANGKAP IKAN
MASYARAKAT MELAYU KABUPATEN MELAWI
KECAMATAN
PINOH UTARA
RENCANA
PENELITIAN
Diajukan untuk Diseminarkan dalam Rangka Penyusunan Skripsi pada
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Seni
oleh
Taufik Surahman
F11111049
![]() |
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014
A.
Judul
Penelitian
Peristilahan Teknologi Tradisional
Penangkap Ikan Masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara.
B.
Latar
Belakang
Teknologi tradisional
merupakan alat yang digunakan secara manual oleh tenaga manusia sebagai
penggeraknya dan tidak termasuk ke dalam jenis alat yang modern, yaitu alat
yang digerakkan dengan menggunakan mesin. Selain itu teknologi tradisional juga
termasuk jenis alat yang diproduksikan secara tradisional oleh manusia.
Sehingga teknologi tradisional merupakan teknologi yang tidak diproduksikan
oleh pabrik atau perusahaan.
Teknologi tradisional
ini digunakan oleh masyarakat untuk membantu kelancaran dan kemudahan dalam
bekerja sebagai mata pencaharian. Adapun mata pencaharian yang masih dilakukan
sampai saat ini oleh masyarakat Melayu sepeti menoreh, mencari ikan, berladang, dan berkebun. Dari beberapa
uraian aktivitas mata pencaharian yang dilakukan oleh masyarakat Melayu
tersebut, satu di antaranya adalah mencari ikan yang masih sering dilakukan
oleh masyarakat Melayu Kabupaten Melawi.
Masyarakat Melayu
Kabupaten Melawi khususnya di Kecamatan Pinoh Utara memiliki pontensi yang
memadai dalam hal menangkap ikan. Aktivitas menangkap ikan ini sudah dilakukan
oleh orang tua terdahulu hingga sekarang. Sehingga masih terdapat peninggalan
yang berupa alat-alat yang berkaitan dengan penangkap ikan. Namun, beberapa di
antara masyarakat ada yang telah meninggalkan aktivitas tersebut karena telah
beralih mata pencaharian lain.
Pada saat menangkap
ikan terdapat ciri khas unik yang dilakukan oleh masyarakat, yaitu dari segi
teknologi atau alat yang digunakan. Alat yang digunakan masih berupa alat
tradisional yang telah ada dan turun-temurun dari peninggalan orang tua
terdahulu hingga sekarang. Alat-alat tradisional ini merupakan produk yang
dihasilkan asli oleh masyarakat melayu di daerah Kecamatan Pinoh Utara dengan
menggunakan alat dan proses yang masih tradisional.
Alat-alat yang dibuat
memiliki nama, jenis, dan fungsi yang berbeda dan memiliki keunikan pada setiap
bentuknya. Begitu pula dengan
perbedaannya di setiap tempat atau di setiap daerah. Perbedaan tersebut
dikarenakan faktor budaya dan latar belakangnya. Sehingga bentuk pembuatannya
sangat memiliki unsur budaya daerah tertentu.
Unsur budaya yang dapat
dilihat pada alat penangkap ikan, yaitu dari segi penamaan alat. Misalnya ‘Äawai’ adalah
alat penangkap ikan yang terbuat dari tali, kawat, mata pancing, pelampung, dan
batu besar sebagai pemberatnya. Kata ‘Äawai’
memiliki perbedaan bahasa pada daerah lain,
yaitu daerah Kabupaten Kapuas Hulu. Di daerah Kabupaten Kapuas Hulu kata ‘Äawai’ itu
disebut ‘Äabai’ tetapi
tidak mengubah bentuk dan jenis alat tersebut.
Selain penamaan alat
yang menjadi unsur pembeda pada alat penangkap ikan tradisional, unsur pembeda
berikutnya dapat dilihat dari cara penggunaanya. Penggunaan alat tersebut
tidaklah dapat digunakan bila tidak disesuaikan dengan aturannya. Seperti
aturan terhadap kondisi lingkungan yang terdapat di sungai. Karena penggunaan
alat penangkap ikan sangat bergantung pada kondisi pasang atau surutnya sungai
dan disesuaikan dengan penempatan terhadap sungai besar atau sungai kecil (labang).
Ukuran dan jenis ikan juga
menjadi penentu penggunaan alat penangkap ikan. Karena ukuran dan jenis ikan dapat
dilihat berdasarkan besar atau kecilnya seekor ikan dan jenis ikan yang akan
ditangkap, seperti ikan seluang, bau?,
dan baoN.
Sehingga penggunaan alat tradisional penangkap ikan dapat disesuaikan beredasarkan
aturan-aturannya. Dengan demikian keunikan yang terdapat pada alat penangkap
ikan, dapat ditelaah lebih lanjut, sehingga bukti-bukti autentiknya dapat
tercantum dalam penelitian ini.
Alat tradisional dalam
menangkap ikan ini dapat dikategorikan sebagai kekayaan budaya Melayu, yaitu di
daerah Melawi yang bertempat tinggal di sekitar aliran sungai. Masyarakat
membuat alat menangkap ikan ini masih menggunakan cara yang tradisional. Oleh
karena itu peristilahan yang akan dipaparkan dalam penelitian ini, yaitu berupa
alat, bagian-bagian, proses pembuatan, dan cara penggunaannya.
Penelitian ini
berkenaan dengan bidang linguistik yang termasuk ke dalam bidang semantik.
Adapaun bidang semantik yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah komponen
makna, jenis makna, dan fungsi makna peristilahan teknologi tradisional
penangkap ikan masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara.
Kabupaten Melawi
memiliki luas wilayah 10.640,80 km2 atau 106.4080 hektar. Dilihat
dari letak geografisnya, Kabupaten Melawi terletak diantara 0˚ 07΄ LS 1˚21΄
LS serta 111˚07΄ BT dan 112˚ 27΄ BT, dengan batas wilayah sebagai berikut.
1. Sebelah
Utara berbatasan dengan Kabupaten Sintang.
2. Sebelah
Selatan berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Tengah.
3. Sebelah
Timur berbatasan dengan Kabupaten Sintang
4. Sebelah
Barat berbatasan dengan Kabupaten Ketapang.
Kabupaten Melawi
terdiri dari 11 kecamatan, yaitu Sokan, Tanah Pinoh, Tanah Pinoh Barat, Sayan,
Belimbing, Belimbing Hulu, Nanga Pinoh, Pinoh Selatan, Pinoh Utara, Ela Hilir,
dan Menukung. Keseluruhan desa yang ada di Kabupaten Melawi berjumlah 169 desa dan
525 dusun. Jumlah penduduk berdasarkan data kantor Pendaftaran Penduduk dan
Catatan Sipil Kabupaten Melawi tahun 2010 berjumlah 178.645 jiwa dengan
kepadatan rata-rata 16,79 jiwa/km2.
Peneliti akan melakukan penelitian teknologi
tradisional penangkap ikan di Desa Tekelak, Melawi Kiri Hilir, dan Kompas Raya,
Kecamatan Pinoh Utara. Penentuan tiga desa tersebut dikarenakan masih banyak
terdapat aktivitas masyarakat yang menangkap ikan sebagai mata pencaharian
dengan menggunakan peralatan tradisional dan jenis alat yang beragam.
Selanjutnya, bahwa kelestarian penutur asli Bahasa Melayu Melawi di tiga desa
tersebut masih sangat terjaga.
Pemilihan peistilahan
teknologi penangkap ikan masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh
Utara sebagai objek penelitian ini berdasarkan pertimbangan bahwa penelitian
mengenai peristilahan alat tradisional penangkap ikan ini belum pernah diteliti
sebelumnya oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
di FKIP Untan. Akan tetapi penletian serupa terhadap alat tradisional pernah
dilakukan oleh Rahmawati mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di FKIP Untan Pontianak tahun 2013. Judul penelitian Rahmawati, yaitu
“Peristilahan Tenun Tradisional Melayu Sambas: Kajian Semantik”. Penelitian
tersebut berfokous pada alat tenun
tradisional dalam dialek komunikasi Melayu Sambas atau Bahasa Melayu Dialek
Sambas (BMDS). Selain itu juga terdapat penelitian yang serupa mengenai
peristilhan yang dilakukan oleh Siska Rahmawati mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FKIP Untan Pontianak tahun 2014,
yaitu “Peristilahan Persenjataan Tradisional Masyarakat Melayu di Kabupaten
Sambas”. Peneltian tersebut berfokus pada pesenjataan tradisional yang dikaji
dengan pendekatan etnolinguistik.
Berdasarkan penjelasan
di atas, penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu, Karena dalam
penelitian ini objek yang dikaji berupa “teknologi tradisional penangkap ikan”
masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara. Sedangkan penelitian
sebelumnya mengkaji objek yang berupa “tenun” dan “persenjataan” masyarakat
Melayu Sambas. Adapun persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya
adalah mengkaji bidang semantik yaitu berkaitan dengan makna.
Penelitian teknologi
tradisioanal penangkap ikan ini dapat menambah kosa kata daerah yang terdapat
di Indonesia. Penambahan kosa kata daerah tersebut diupayakan agar generasi
muda dapat melestarikan unsur kekayaan budaya yang dimiliki oleh suatu daerah.
Sehingga dapat meminimalisasikan ketidaktahuan generasi muda terhadap
kebudayaan di Indonesia yang pada saat ini sudah banyak masuk unsur
perkembangan teknologi yang lebih canggih dan modern.
Adapun hubungan
penelitian ini dengan pembelajaran bahwa penelitian ini dapat dijadikan sebagai
referensi untuk kegiatan belajar mengajar di perkuliahan khususnya pada mata
kuliah semantik. Karena pembelajaran semantik sangat berkaitan dengan
pembahasan dalam rencana penelitian ini yang berupa pembahasan mengenai makna.
Pembahasan Makna yang berkaitan dalam kajian semantik ini berupa komponen
makna, jenis dan fungsi makna dari peristilahan teknologi tradisional penangkap
ikan. Penelitian ini juga, akan menghasilkan kamus tematik atau kamus mini yang
berupa istilah-istilah yang terdapat pada teknologi tradisional penangkap ikan.
Dengan demikian dapat menambah pengetahuan baru tentang ilmu bahasa daerah,
khususnya bahasa daerah Melayu Melawi Kecamatan Pinoh Utara yang berkaitan
dengan teknologi tradisional penangkap ikan.
Penelitian ini juga diharapkan
dapat memberikan referensi bagi pembaca, masyarakat, guru, dan orang lain
berdasarkan kebutuhan. Sehingga dapat menambah wawasan pengetahuan di bidang
bahasa dan kebudayaan khususnya mengenai teknologi tradisional penangkap ikan
di Kalimantan Barat. Dengan demikian dapat menambah inventarisasi bahasa daerah
yang ada di Indonesia.
C.
Rumusan
Masalah
Masalah umum yang
dibahas dalam penelitian ini adalah peristilahan teknologi tradisional
penangkap ikan masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara. Adapun
masalah khusus penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah
komponen makna peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan masyarakat
Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara yang berupa alat, bagian-bagian, proses
pembuatan dan proses penggunaanya?
2. Bagaimanakah
jenis makna peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan masyarakat Melayu
Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara yang berupa alat, bagian-bagian, proses
pembuatan dan proses penggunaanya?
3. Bagaimanakah
fungsi makna peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan masyarakat
Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara yang berupa alat, bagian-bagian, proses
pembuatan dan proses penggunaanya?
D.
Tujuan
Penelitian
Adapun tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Pendeskripsian
komponen makna peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan masyarakat
Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara yang berupa alat, bagian-bagian, proses
pembuatan dan proses penggunaanya?
2. Pendeskripsian
jenis makna peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan masyarakat Melayu
Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara yang berupa alat, bagian-bagian, proses
pembuatan dan proses penggunaanya?
3. Pendeskripsian
fungsi makna peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan masyarakat
Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara yang berupa alat, bagian-bagian,
proses pembuatan dan proses penggunaanya?
E.
Manfaat
Penelitian
Manfaat penelitian ini
terdiri atas manfaat secara teoretis dan manfaat secara praktis, adapun
pemaparannya adalah sebagai berikut.
1. Manfaat Teoretis
Penelitian ini akan memberikan peningkatan terhadap
pengetahuan tentang kebudayaan di Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara
khususnya mengenai kebahasaan yang terkandung dalam peristilahan teknologi
tradisional penangkap ikan masyarakat Melayu yang saat ini sudah mulai
ditinggalkan karena telah beralih mata pencaharian. Hasil penelitian ini juga
akan dijadikan acuan untuk peneliti selanjutnya yang membahas objek penelitian
yang sama.
2.
Manfaat
Praktis
a. Penelitian
ini akan menambah wawasan dan pengalaman peneliti tentang kebudayaan masyarakat
melayu Melawi Kecamatan Pinoh Utara tentang bahasa khususnya peristilahan
teknologi tradisional penangkap ikan.
b. Penelitian
ini akan memberikan konsep kepada pembaca tentang peristilahan teknologi
tradisional penangkap ikan yang terdapat di Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh
Utara.
c. Penelitian
ini akan menjadi bahan penunjang atau referensi kepada pendidik untuk mengetaui
kebudayaan dan kosakata pada teknologi tradisional penangkap ikan melayu di
Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara.
d.
Penelitian ini dapat menjadi bahan
referensi bagi peneltiti berikutnya untuk ditindaklanjuti lebih dalam.
F.
Ruang
Lingkup Penelitian
Ruang lingkup peneltian
dibutuhkan agar penelitian dapat terarah dan proses pengumpulan data dapat
tersusun secara sistematis. Penelitian ini difokuskan pada pendeskripsian
teknologi tradisional penangkap ikan masyarakat melayu Kabupaten Melawi
Kecamtan Pinoh Utara yang berupa kajian semantik. Adapun hal-hal yang akan
dipaparkan dalam penelitian ini yaitu berupa alat, bahan yang digunakan dalam
pembuatan, desain, bagian-bagian serta penggunaan alat sebagai mata
pencaharian. Berkaitan dengan hal tersebut, ruang lingkup penelitian ini
mencakup dua aspek, sebagai berikut.
1. Pembahasan
mengenai komponen makna peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan
masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara.
2. Pembahasan
mengenai jenis makna peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan
masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara.
3. Pembahasan
mengenai fungsi makna peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan
masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara.
G.
Penjelasan
Istilah
Istilah-istilah yang
perlu dipertegas pengertiannya agar tidak salah paham dan menyatukan persepsi
peneliti dengan pembaca dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut.
1. Istilah
adalah kata atau gabungan kata yang maknanya sudah tetap, tepat, pasti jelas,
dan mantap; serta hanya digunakan dalam satu bidang kegiatan atau keilmuan
tertentu (Chaer, 2007: 19).
2. Teknologi
tradisional merupakan alat yang digunakan secara manual oleh tenaga manusia
sebagai penggeraknya dan tidak termasuk ke dalam jenis alat yang modern, yaitu
alat yang digerakkan dengan menggunakan mesin. Selain itu teknologi tradisional
juga termasuk jenis alat yang diproduksikan secara tradisional oleh tenaga
manusia. Sehingga teknologi tradisional merupakan teknologi yang tidak
diproduksikan oleh pabrik atau perusahaan.
3. Melayu
Melawi merupakan satu di antara suku yang terdapat di Kabupaten Melawi yang
terletak pada wilayah timur dari Provinsi Kalimantan Barat.
4. Kajian
Semantik adalah subdisplin linguistik yang membicarakan tentang makna (Pateda,
2010:7). Makna yang dimaksudkan dalam hal ini adalah makna bahasa.
Berdasarkan penjelasan
istilah yang dikemukakan di atas, peneliti memilih peristilahan teknologi
tradisional penangkap ikan. Persenjataan yang menjadi objek penelitian
merupakan persenjataan yang bersifat tradisional yang terdapat dan digunakan
oleh masyarakat Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara. Telaah mengenai makna
bahasa yang meggambarkan bagian yang direalisasikan oleh seperangkat unsur
leksikal pada bidang teknologi tradisional penangkap ikan.
H.
Kajian
Pustaka
1. Pengertian Istilah
Berdasarkan
pedoman umum pembentukkan istilah, istilah adalah kata atau frasa yang dipakai
sebagai nama atau lambang dan yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep,
proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang ilmu pengetahuan; teknologi;
dan seni. menggunakan konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam
bidang tertentu. Menurut Chaer (2007:19) istilah adalah kata atau gabungan kata
yang maknanya sudah tetap, tepat, pasti, jelas, dan mantap; serta hanya
digunakan dalam satu bidang kegiatan atau keilmuan tertentu.
2. Pengertian Semantik
Pendapat yang berbunyi “semantik adalah studi
tentang makna” dikemikan pula oleh
Kambartel (dalam Pateda, 2010: 7). Menurutnya, semantik mengasumsikan bahwa
bahasa terdiri dari struktur yang menampakkan makna apabila dihubungkan dengan
objek dalam pengalaman dunia manusia. Oleh karena itu, “semantik” merupakan
bagian dari ilmu linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa.
3.
Komponen Makna
Komponen makna atau komponen semantik merupakan suatu
bentuk teknik analisis makna kata dengan mengajarkan bahwa setiap kata atau
unsur leksikal terdiri dari satu atau beberapa unsur yang bersama-sama
membentuyk makna kata atau makna unsur leksikal tersebut. Makna yang dimiliki
oleh setiap kata itu terdiri dari sejumlah komponen (yang disebut komponen
makna), yang membentuk keseluruhan makna kata itu. Komponen makna ini dapat
dianalisis, dibutiri, atau disebutkan satu per satu, berdasarkan
“pengertian-pengertian” yang dimilikinya. Umpamanya, kata ayah memiliki
komponen makna /+manusia/, /+dewasa/, /+jantan/, /+kawin/, dan /+punya anak.
Perbedaan makna antara kata ayah dan ibu hanyalah pada ciri makna
atau komponen makna; ayah memiliki makna jantan, sedangkan ibu
tidak memiliki kata jantan.
Tabel 2.1 Komponen makna
manusia sebagai contoh
Komponen makna
|
Ayah
|
Ibu
|
Insan
|
+
|
+
|
Dewasa
|
+
|
+
|
Jantan
|
+
|
-
|
Kawin
|
+
|
+
|
Keterangan: tanda + mempunyai komponen makna
tersebut, dantanda - tidak mempunyai komponen makna tersebut.
Tabel 2.2 Komponen makna
teknologi tradisional
penangkap ikan sebagai
contoh
Komponen makna
|
Jalo
|
Pukat
|
Menggunakan tali nilon
|
+
|
+
|
Menggunakan benda
pemberat
|
+
|
+
|
Menggunakan pelampung sebagai perentang/
tanda
|
-
|
+
|
Perbedaan makna antara
kata jalo dan pukat terdapat pada ciri makna atau komponen makna yaitu pukat ‘menggunakan pelampung sebagai
perentang atau tanda’ sedangkan jalo tidak
‘menggunakan pelampung sebagai perentang atau tanda’.
4.
Jenis
Makna
Para ahli linguis memaparkan beberapa jenis-jenis
makna dalam semantik. Di antaranya memiliki kesamaan dan beberapa perbedaan
dalam merumuskannya. Menurut Chaer (2009:60-78) jenis makna diklasifikasikan
menjadi makna leksikal dan makna gramatikal, makna referensial dan makna
nonreferensial, makna denotatif dan makna konotatif, makna kata dan makna
istilah, makna konseptual dan makna asosiatif, makna idiomatikal dan
peribahasa, makna kias, makna lokusi, ilokusi, dan perlokusi.
Menurut Pateda (2010:96-131) mengklasifikasikan
jenis makna ke dalam 29 kategori jenis makna, yaitu makna afektif, denotatif,
deskriptif, ekstensi, emotif, gereflekter, gramatikal, ideasional, intensi,
khusus, kiasan, kognitif, kolokasi, konotatif, konseptual, konstruksi,
kontekstual, leksikal, lokusi, luas, piktorial, proporsional, pusat,
referensial, sempit, stilistika, tekstual, tematis, dan umum. Pada penelitian
ini peneliti akan membahas makna secara leksikal saja di dalam peristilahan
teknologi tradisional penangkap ikan Masyarakat Melayu di Kabupaten Melawi
Kecamatan Pinoh Utara.
5. Makana Leksikal
Menurut Pateda (2010:119) makna leksikal (lexical meaning) atau makna semantik (semantic meaning), atau makna eksternal
(external meaning) adalah makna kata ketika
makna kata itu berdiri sendiri, entah dalam bentuk leksem atau bentuk
berimbuhan yang maknanya kurang lebih tetap, seperti yang dapat dibaca di dalam
kamus bahasa tertentu. Menurut Chaer (2009:60) makna leksikal adalah makna yang
bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Menurut
Prawirasumantri, dkk (1997:118) makna leksikal adalah makna yang terdapat pada
kata yang berdiri sendiri (terpisah dari kata lain), baik dalam bentuk dasar
maupun dalam bentuk kompleks, dan makna yang ada relatif tetap seperti apa yang
dapat kita lihat di dalam kamus.
6.
Fungsi Semantis
Menurut Kridalaksana (2008: 68) fungsi semantik adalah peran
unsur dalam suatu ujaran dan hubungannya secara struktural dengan unsur lain
khususnya dibidang makana berhubungan dengan fungsi dan makna, menentukan
fungsi menjadi lebih sulit sebab fungsi dan makna terjalin erat tidak
terpisahkan. Seorang bahasawan atau penutur suatu bahasa dapat memahami dan
menggunakan bahasanya bukan karena dia menguasai semua kalimat yang ada dalam bahasanya
melainkan adanya unsur kesesuaian atau kecocokan ciri-ciri semantik.
7.
Pemaknaan
Nida
(dalam Pateda, 2010:273-284) menyebutkan empat prosedur untuk menganalisis
pemaknaan atau komponen makna, yaitu penamaan, memarafrasa, mendefinisi, dan
mengklasifikasikan penjelasannya adalah sebagai berikut.
a. Penamaan
Menurut Pateda (2010:276) penamaan sebenarnya
merupakan budi daya manusia untuk memudahkan mereka berkomunikasi. Penamaan itu
sendiri merupakan kegiatan pengganti benda, proses, gejala, aktivitas, sifat.
Pateda juga menambahkan Proses penamaan tentu berhubungan dengan acuannya.
Misalnya, kalau seseorang melihat binatang yang berkaki empat dan biasa dipacu,
suka makan rumput, kita segera mengatakan bahwa binatang tersebut adalah kuda.
b. Memarafrasa
Pateda (2010:280) mengutarakan untuk menganalisis
komponen makna sehingga menjadi lebih rinci, digunakan parafrasa. Parafrasa
bertitik tolak dari deskripsi secara pendek tentang sesuatu. Misalnya, kalau
orang berkata paman, dapat diparafrasakan menjadi saudara laki-laki ayah atau
saudara laki-laki ibu. Menurut Pateda (2010:280) dalam hubungan dengan usaha
memarafrasa, orang perlu membedakan dua tipe unit semantik, yakni unit inti dan
ujaran yang dikaitkan dengan unit inti dalam parafrasa.
c. Mendefinisi
Pateda (2010:281) secara leksikologis, definisi
adalah: (i) kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan,
atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas; (ii) rumusan tentang
ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau
studi.
d. Mengklasifikasikan
Mengklasifikasikan merupakan proses menghubungkan
sebuah leksem dengan genus atau kelas (Pateda 2010:284). Klasifikasi ini
merupakan langkah pertama untuk membatasi suatu pengertian adalah menghubungkan
sebuah kata dengan genusnya. Genus adalah setiap pengertian yang menyatakan
hanya sebagian dari hakikat sesuatu.
8.
Antropolinguistik
Antropolinguistik merupakan gabungan dari dua
disiplin ilmu yakni antropologi dan linguistik. Antropologi merupakan ilmu yang
mengkaji kebudayaan dan linguistik sebagai ilmu yang mengkaji bahasa.
Linguistik (ilmu bahasa) dan antropologi kultural (ilmu budaya) bekerja sama
dalam mempelajari hubungan bahasa dengan aspek-aspek budaya (Sibarani,
2004:49-50).
Antropolinguistik
adalah cabang linguistik yang mempelajari variasi dan penggunaan bahasa dalam
hubungan dengan perkembangan waktu, perbedaan tempat komunikasi, sistem
kekerabatan, pengaruh kebiasaan etnik, kepercayaan, etika berbahasa, adat
istiadat, dan pola-pola kebudayaan lain dari suatu suku bangsa (Sibarani,
2004:50).
Menurut Crystal (dalam Sibarani, 2004:50) antropolinguistik
menitikberatkan pada hubungan antara bahasa dan kebudayaan di dalam suatu
masyarakat seperti peranan bahasa di dalam mempelajari bagaimana hubungan
keluarga diekspresikan dalam terminologi budaya, bagaimana cara seseorang
berkomumikasi dengan orang lain dalam kegiatan sosial dan budaya tertentu, dan
bagaimana cara seseorang berkomunikasi dengan orang dari budaya lain, bagaimana
cara seseorang berkomunikasi dengan orang lain secara tepat sesuai dengan
konteks budayanya, dan bagaimana bahasa masyarakat dahulu sesuai dengan
perkembangan budayanya.
Menurut Foley (dalam Bawa, 2004:37),
antropolinguistik memandang bahasa melalui prisma konsep inti antropologi,
budaya, dan sebagainya untuk menemukan “makna” di balik penggunaannya.
I.
Metodologi
Penelitian
1. Metode Penelitian
Peneliti
memakai metode deskriptif. Sudaryanto (1988:2) mengemukakan istilah deskriptif
menyarankan agar penelitian yang dilakukan semata-mata hanya melihat
berdasarkan fakta yang ada atau fenomena yang secara empiris, sehingga yang
dihasilkan atau dicatat berupa bahasa yang dikatakan sifatnya seperti potret,
paparan seperti apa adanya. Peneliti menggunakan metode deskriptif ini
bertujuan untuk mengungkapkan, menggambarkan dan menguraikan data yang sesuia
dengan fakta yang diperoleh di lapangan.
2. Bentuk
Penelitian
Bentuk penelitian ini adalah penelitian
kualitatif. Penelitian kualitatif adalah
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh
subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan
lain-lain, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata
dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan
berbagai metode alamiah (Moleong, 2007:6).
3. Sumber
data dan Data
a.
Sumber Data
Sumber
data dari penelitian ini adalah Bahasa Melayu Dialek Melawi (BMDM) yang ditutur
oleh masyarakat yang memiliki dan mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan
teknologi tradisional penangkap ikan serta merupakan penutur asli dan informan
yang mengetahui peristilahan yang ada dalam teknologi tradisional penangkap
ikan di Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara. Informan dalam penelitian ini
akan dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Menurut Samarin (1988:55-62),
syarat-syarat pemilihan informan sebagai berikut.
1) Berusia
di atas 30 tahun.
2) Memilih
informan yang berjenis kelamin sama.
3) Mengetahui
kebudayaan setempat.
4) Penutur
asli bahasa dan dialek yang akan diteliti.
b. Data
Data
dari penelitian ini adalah kata atau frasa yang mengandung peristilahan dalam
teknologi tradisional penangkap ikan masyarakat Melayu di Kabupaten Melawi
Kecamatan Pinoh Utara.
4. Teknik
dan Alat Pengumpulan Data
a.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik
yang dilakukan peneliti dalam mendapatkan data di lapangan adalah teknik
perekaman dan wawancara. Teknik perekaman dilakukan menggunakan perekam visual
teknologi tradisional penangkap ikan masyarakat melayu di Kabupaten Melawi
Kecamatn Pinoh Utara. Wawancara dilakukan kepada pemilik atau orang yang
mengetahui tentang peristilahan teknologi tradisional penangkap ikan. Kegiatan
wawancara dilakukan dengan bantuan instrumen tulis, gambar, dan alat perekam.
b. Alat Pengumpulan Data
Alat
pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen wawancara,
alat perekam video, dan perekam suara. Peneliti sebagai instrumen kunci sebagai
perencana, pelaksana, penganalisis, dan pelapor hasil penelitian.
Adapun
langkah-langkah dalam pengumpulan data dalam penelitian ini sebagai berikut.
1) Peneliti bertemu dan bertatap muka dengan
narasumber.
2) Peneliti bertanya jawab dengan menggunakan
instrument wawancara.
3) Peneliti mencatat dan merekam pengucapan yang
disampaikan narasumber.
4) Peneliti mentranskripsikan hasil rekaman.
5) Peneliti membaca hasil rekaman yang telah
dicatat.
6) Peneliti mengidentifikasi hasil rekaman yang
telah dicatat.
7) Peneliti mengklasifikasikan hasil rekaman.
8) Peneliti menguji hasil rekaman.
5. Menguji Keabsahan Data
Teknik keabsahan data ini dilakukan untuk memastikan
kebenaran dan keakuratan data yang didapatkan. Pengujian ini dilakukan dengan
tiga cara yaitu teknik ketekunan pengamatan, diskusi teman sejawat, dan
triangulasi.
a. Ketekunan Pengamatan
Menurut Moleong (2010:329) ketekunan
pengamatan berarti mencari secara konsisten interpretasi dengan berbagai cara
dalam kaitan dengan berbagai proses analisis yang konstan atau tentatif.
Ketekunan ini akan dilakukan oleh peneliti dalam melaksanakan pengambilan data melalui studi dokumenter agar
tidak terjadi kekeliruan dan ketidaklengkapan data.
b. Diskusi Teman Sejawat
Diskusi teman sejawat ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil
sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan
rekan-rekan sejawat (Moleong, 2007:332). Diskusi ini dilakukan untuk bertukar pikiran bersama teman agar dapat
membantu peneliti apabila kesulitan dalam melakukan proses penelitian, memberikan
saran, dan meninjau kembali pandangan tentang analisis yang sedang dilakukan.
c. Triangulasi
Peneliti akan
melakukan triangulasi sebagai cara untuk memeriksa keabsahan data.
Menurut Saebani (2008:189)
triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat
menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada.
Sedangkan menurut Moleong (2007:330) triangulasi adalah teknik pemeriksaan
keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Denzin (dalam Moleong, 2007:330) membedakan empat macam
triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber,
metode, penyidik, dan teori. Dalam penelitian ini peneliti akan menggunakan
triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber berarti
membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang
diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif.
Sedangkan triangulasi metode adalah penggunaan lebih dari satu metode dalam
tahap penyediaan data, misalnya penggunaan metode simak di samping metode cakap
mendalam.
6. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan upaya yang dilakukan untuk
mengklasifikasi, mengelompokkan data. Pada tahap ini dilakukan upaya
menggelompokkan, menyamakan, data yang sama dan membedakan data yang memang
berbeda, serta menyisihkan pada kelompok lain data yang serupa, tetapi tidak
sama. (Mahsun, 2012:253). Cara-cara yang dilakukan dalam teknik analisis data
adalah sebagai berikut.
a.
Peneliti membaca kembali data yang sudah
diklasifikasikan.
b.
Peneltit menganalisis, mentranskripsikan, dan
menginterpretasikan komponen makna berdasarkan peristilahan teknologi tradisional
penangkap ikan masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara.
c.
Peneltit menganalisis, mentranskripsikan, dan
menginterpretasikan jenis makna berdasarkan peristilahan teknologi tradisional penangkap
ikan masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara.
d.
Peneltit menganalisis, mentranskripsikan, dan
menginterpretasikan fungsi makna berdasarkan peristilahan teknologi tradisional
penangkap ikan masyarakat Melayu Kabupaten Melawi Kecamatan Pinoh Utara.
e.
Peneliti Menyimpulkan data.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer,
Abdul. 2007. Leksikologi dan Leksikografi
Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer,
Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa
Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Erom, Kletus. 2007. Teori Linguistik Kebudayaan. Denpasar: Universitas Udayan.
Mahsun. 2012. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Moleong,
Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian
Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakrya.
Pateda, Mansoer. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Saebani, Beni Ahmad. 2008. Metode Penelitian. Bandung: CV Pustaka
Setia.
Samarin, William J. 1988. Ilmu Bahasa Lapangan. Yogyakarta:
Kanisius.
Sibarani, Robert. 2004. Antropolinguistik. Medan: Penerbit PODA.
Sudaryanto. 1988. Metode Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Sugono,
Dendy. 2007. Pedoman Umum Pembentukan
Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Langganan:
Postingan (Atom)